Oleh: riyan17 | 5 Juni 2012

Kurikulum Berbasis Kompetensi: Upaya Meningkatkan Kualitas Lulusan (Bagian 1)

Mengikuti perubahan dan kemajuan jaman adalah juga hal yang harus terjadi dalam dunia Perguruan Tinggi. Perubahan era dimana dituntut daya kreativitas dan kematangan serta daya tahan dalam menghadapi tuntutan jaman membutuhkan perubahan dalam sistem pembelajaran di Perguruan Tinggi. Secara khusus di era teknologi informasi dimana arus informasi yang dapat diakses oleh setiap orang seakan tak berbatas dan setiap orang dengan amat mudah dapat terhubung dengan orang lain.

Metode pembelajaran yang dahulu lebih banyak berpusat pada dosen (Teacher Centre Learning) sudah tidak sesuai lagi. Mahasiswa diharapkan lebih dapat bersikap proaktif dan bertanggung jawab terhadap hasil belajarnya, guna mendukung dihasilkannya lulusan yang kompeten dan mempunyai daya kreativitas bagi generasi digital maka perlu dilakukan perubahan kurikulum yang seimbang.
Kurikulum dimaksud adalah yang dapat mendukung terciptanya iklim belajar yang supportif dan memfasilitasi mahasiswa untuk menumbuhkan rasa tanggung jawab pribadi dan mengembangkan kemampuan bekerja dalam team. Kurikulum Berbasis Kompetensi (KBK) ini sebetulnya sudah diluncurkan semenjak tahun 2004. KBK merupakan implikasi dalam bidang pendidikan dari disyahkannya UU No. 22 tahun 1999 tentang Otonomi Daerah diikuti oleh PP No. 25 tahun 2000 tentang pembagian kewenangan antara Pemerintah dan Kewenangan Daerah. Dalam KBK, dosen tidak hanya mengajar tetapi juga berperan sebagai fasilitator, motivator, dan inspirator.

Secara tertulis, peran sebagai fasilitator, motivator, dan inspirator ini seakan memberikan tugas baru bagi dosen. Namun, peran ini juga memberikan pengalaman yang berbeda yang berujung bagi kesadaran baru mengenai hakekat profesi seorang dosen. Dosen bukan satu-satunya sumber pengetahuan bagi mahasiswa. Dengan sistem KBK dosen mendapat peluang yang lebih besar dalam memberikan gambaran kepada mahasiswa mengenai materi keilmuan yang lebih sesuai dengan pengalaman masing-masing dosen. Ibaratnya mengarahkan mahasiswa yang bisa berbelanja sayur namun belum bisa memasaknya. (ditulis dan disaring dari sumber psikologi UGM)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: