Oleh: riyan17 | 4 Juni 2011

ILMU IKLAS

subhnallah…
“sesungguhnya sholatku, ibadahku, hidupku, dan matiku hanya untuk allah, tuhan semesta alam”

“barang siapa yang menyebut la illa ha ilallah dengan ikhlas pasti masuk surga”

apakah jika saya mengharapkan surga allah disebut tidak ikhlas??

apakah jika allah mengiming-imingkan saya dengan surga-Nya allah, lantas saya percaya kepada allah karena allah akan memberikan saya surga, saya disebut tidak ikhlas?? dan ini salah??

apakah jika saya percaya (beriman) kepada perkataan allah lantas saya disebut tidak ikhlas??

apakah saya tidak boleh mengharapkan sesuatu dari allah??, sedangkan allah maha berkuasa atas segala sesuatu, allah maha mengabulkan sesuatu, dan sedangkan allah menyuruh saya untuk meminta hanya kepadanya bukan kepada yang lain…, jika saya masih disalahkan juga dan dibilang tidak ikhlas karena mengharapkan sesuatu dari allah…, tega bener sih….!! (emangnya kemana lagi saya meminta pertolongan jika saya sedang kesusahan dan mempunyai hajat??, emangnya ada yah yang bisa mengabulkan permohonan saya selain allah??, dan yang lebih berkuasa selain allah, emang ada??)

“sepertinya harus diteliti lebih dalam dan perlu diralat deh…. kata-kata “ibadah mah ibadah aja, jangan meminta/berharap sesuatu kepada allah…, meminta sesuatu kepada allah itu tidak ikhlas namanya (kan berharap)…” (kalau seperti ini bahasanya.., kasihan dong saya, gak ada tempat untuk mengadu dan gak ada tempat untuk meminta…, padahal banyak sekali kebutuhan-kebuthan dan hajat saya…)

CERITA 1 : si Budi

Ada seorang anak yatim, yang sakit. Di ujung gang. Dan si budi tergerak memberi ibu anak yatim ini, 100rb rupiah sebagai sedekah.

si budi jalan diam-diam, no body knows. Tidak ada yang tahu. Bahkan si budi pun menyengaja tidak memberi tahu siapapun. budi sembunyikan segala niatan nya…. Hanya Allah saja yang tahu.

budi ambil amplop, lalu budi selipkan uang Rp. 100 tersebut. si budi pilih sengaja jalan menuju rumah si yatim di saat langit begitu sunyi dihiasi sinar sempurna rembulan. dengan alasan: Benar-benar supaya tidak ada yang tahu, bahwa di tangan budi tergenggam amplop putih berisi uang 100rb untuk si yatim.

Andai pun ada yang menegur: “Hendak kemana wahai anak muda?” Niscaya budi hanya akan jawab dengan senyuman saja tanpa berkata-kata. Menghindari pertanyaan selanjutnya. Kalaupun perlu menjawab, si budi hanya akan menjawab: “Sedang menikmati malam dan gemerlapnya bintang”.

Lalu, di depan pintu rumah si yatim, budi pun menikmati kesendirian amal. Benar-benar tidak ada yang tahu. Sementara budi meyakini bahwa Malaikat-Malaikat Allah yang bersih hatinya lah yang menatap lekat perilaku budi dan mencatatnya bahwa amal ini mutlak milik Allah dan
dipersembahkan hanya untuk Allah semata.

Melalui lobang kecil di bawah pintu, yang berjarak hanya setengah centi dari tanah, budi masukkan amplop tersebut. Amplop ini hanya bertuliskan: “Dari hamba Allah”.

Bahkan amplop itu masih berisi sedekah dalam bentuk yang lain. Yakni sedekah dalam bentuk
sekalimat doa: “Semoga Ananda diberikan kesembuhan, dan ibu memiliki keberkahan memelihara
anak yatim”.

Tapi ya hanya sampai di situ. Benar-benar sampai di situ. Tidak ada ketukan pintu yang kemudian menjadi kesempatan buat budi memberi tahu si penghuni rumah bahwa ada amplop terselip dibawah pintu. Tidak.

Amal ini begitu sunyi. Sesunyi malam yang dipilih. dan sunyi dari kepentingan pribadi…

Inilah yang barangkali disebut budi dengan “ikhlas” dan juga oleh kebanyakan orang. Berusaha keras menyembunyikan amal, hanya Allah saja yang tahu. Kerahasiaan amal di jaga demikian ketat. Hal-hal apa saja yang menyebabkan amal ini menjadi tetap tersembunyi, benar-benar dilakukan.

CERITA 2 : si Andi

Masih dalam adegan yang sama, kejadian yang sama, dan situasi keadaan yang juga sama dengan
cerita 1. cerita 2 ini hanya ingin menambahkan, bahwa ternyata amplop yang diberikan ke anak yatim tersebut “tidak kosong”. Melainkan ia “berisi”.

Tentu saja bukan berisi uang 100rb. Sebab itu mah udah terang bahwa itu amplop berisi 100rb.
Cuma, amplop itu tanpa nama. Hanya bertuliskan “Hamba Allah”. Ada sih “isi” nya yang lain selain uang 100rb dan bubuhan nama: Hamba Allah. Yakni bubuhan doa: “Semoga Ananda diberikan
kesembuhan, dan ibu memiliki keberkahan memelihara anak yatim”. Tapi, ini amplop sepi dari
kepentingan pribadi.

Nah, di cerita 2 ini, ada seorang anak muda yang bernama andi, yang bergaya sedekah sama. Sama2 tersembunyi.

Namun anak muda ini berbeda. Anak muda pemberi sedekah ini menambahkan kalimat akhir di amplop tersebut: “… Mohon doa, agar Allah berikan saya rizki yang banyak yang barokah,
dan agar Allah kabulkan hajat saya”. Masih tanpa nama. Hanya tertulis: “Hamba Allah”.

—————-
Terasa ada satu pamrih ya? Minta didoakan oleh si penerima sedekah.

Atau temen-temen ada yang mengatakan, yang beginian mah disebutnya bukan pamrih atuh. Sebut saja dengan: Minta doa. Ya, minta doa dari si yatim dan ibunya. Toh, minta doa itu kan tidak salah. Bukan sesuatu yang pamrih. Malah kebaikan adanya. Betul loh, minta doa itu adalah ibadah juga. Bahkan ibadah berganda. Ketika kita minta doa, maka itu akan membuat orang lain mendoakan kita. Itu kan sama saja dengan memberi peluang orang untuk mendoakan orang lain. Dan ketika meminta doa, ada pahala silaturahim juga.

Sebagian temen-temen yang lain lagi berpendapat, minta doa mah, ga kudu ngasih juga ga apa-apa. Barangkali demikian. “Cuma, ga enak aja,” Masa minta tanpa memberi sesuatu? Kalo kita bawa tentengan buat si yatim, bisa nyenengin hatinya, rasanya si yatim pun begitu dimintain doa jadi tambah enteng dan ikhlas.

Tetap terlihat pamrih ya?
Engga ah.
Ya terserah saja.

———————
Dalam hubungannya dengan Allah, jika meminta adalah sesuatu yang bukan saja tidak dilarang, tapi juga malah disuruh, dianjurkan, dan menjadi ibadah. Maka, mestinya sedekah tidak boleh
menghalangi seseorang dari meminta. Sebagaimana shalat dan atau amal saleh lainnya yang malah menjadi penambah faktor doa dikabulkan, jika doa itu dilayangkan sehabis mengerjakan/
dibarengi dengan amal saleh.

jika meminta adalah doa, dan doa adalah ibadah, maka ia bisa berdiri sebagai satu ibadah
tersendiri. Yang tanpa rangkaian ibadah lain, doa menjadi boleh dipanjatkan.

Jika demikian, apakah bisa dikatakan bahwa seseorang yang bersedekah dan berdoa (meminta kepada Allah, mengharap kepada Allah) dia mendapat dua pahala, Pahala bersedekah dan pahala berdoa.

Dan jika bersedekah malah menjadikan seseorang tidak boleh berharap sama Allah, apakah ia boleh kemudian memilih tidak bersedekah saja? Sebab sedekahnya malah menghalanginya meminta sama Allah?

CERITA 3 : si edi

masih dalam cerita yang mirip : Ada seorang anak yatim, yang sakit. Di ujung gang. Dan si edi tergerak memberi ibu anak yatim ini, 100rb rupiah sebagai sedekah.

berbeda dengan si budi dan si andi…, si edi langsung mendatangi rumah seorang ibu yang mempunyai anak yatim tersebut tanpa bersembunyi-sembunyi….

si edi berkeyakinan seperti pesan ibunya “sambil menyelam minum susu”…., (alias sekali mendayung 2 atau 3 pulau bisa terlampaui).. selain niat bersedekah si edi juga punya berbagai macam niatan (si edi berfikir.., lumayan kan 1 kali ayunan langkah bisa mengumpulkan beberapa macam pahala kebaikan…). selin niat bersedekah (pertama), si edi juga ingin memenuhi perintah allah dalam bersilaturahmi (kedua), bukankah silaturahmi itu perintah allah???, bukan cuma itu.., si edi tahu benar bahwa anak-anak yatim itu dimuliakan oleh allah.., maka si edi berniat mencari berkah anak yatim “dengan meminta do’anya” kepada anak yatim dan ibunya… “… Mohon doa, agar Allah berikan saya rizki yang banyak yang barokah, dan agar Allah kabulkan hajat saya” (persis seperti si andi layangkan dalam amplop), tidak sampai disitu : setelah pulang edi pun berdoa kepada allah agar anak yatim tersebut diangkat penyakitnya, ibunya pun diberikan kesabaran dalam merawat anak yatim tersebut dan tidak lupa edi berdoa untuk dirinya sendiri agar dimudahkan dalam hidup dan langkah edi…. (subhanallah bukankah ini benar-benar, “sekali ayunan langkah bisa mengumpulkan beberapa macam kebaikan??) .

tidak sampai disini…..

setelah beberapa hari (dari mengunjungi anak yatim…)… pintu rezeki si edi benar-benar terbuka (mungkin ini karena doa dari si anak yatim…, karena allah memuliakan anak yatim) subhanallah….

si edi berfikir (saya gak boleh seneng sendirian nih…), si edi kemudian bercerita kepada adiknya, kakaknya dan seluruh keluarganya…, si edi berkata “kalau rezeki kamu mau terbuka dan hajat ingin dikabulkan allah…, maka banyaklah sedekah dan senangi hati anak yatim”… walhasil adiknya pun mengikuti (dan edi pun mendapatkan pahala kebaikan dari adiknya) dan mendapatkan kejadian yang sama seperti edi yaitu “terbuka rizkinya dan lancar”

tidak sampai disini lagi….

edi pun memberi tahukan dan menadikan “sedekah” sebagai metode karena kejadiannya terus berulang dan berulang kepada siapa saja yang melakukannya… dan edi pun menyebarluaskan kepada teman-temannya dan menjadikan sebuah tulisan agar diikuti oleh pembaca yang ingin mengharapkan pertolongan allah…. (walhasil edi pun mendapatkan pahala yang tak terhingga karena orang-orang yang mengikuti anjuran edi untuk bersedekah…. subhanallah…)

(Sumber :http://www.club-pecinta-alquran.com/index.php?option=com_content&view=article&id=124&Itemid=127)


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Kategori

%d blogger menyukai ini: